PENDIDIKAN MENULIS MASA DEPAN
Di depan papan tulis ku tatap
bulir-bulir kata; yang
merajut serat-serat nubuat
bagai memijat penat
setelah dilema berulang
saat istirahat aku mengecap hampa
di dada
sembari menatap jendela; sorak gembira
bercerai derai
dalam hati yang menelan hampa
bingung menyinggahi sanubari
kemanakah aku harus berlari?
di depan papan tulis ku tatap
bulir-bulir kata; yang
memantik asa dalam pikiran remang;
dan
menggugurkan kebimbangan yang
beranak pinak
secangkir takdir ku hidangkan
setelah ragu-raguku dininabobokan
kata-kata
buku bak tungku ilmu berpadu, dan
saat pertemuan pertama bertutur
Pancasila
ku tangkap, ku dekap, aku mengerti
di depan kelas; ku bertemu, dengan
gumpalan mendung dalam kata-kata
bak maut merajam
yang membuat air terjun pecah
"mengapa kalian menyakiti anak
itu?"
mereka berdalih; tak suka dengan
rasa gosong yang pahit
sila ke-2 membela, membelah hati
mereka mengalah, mengucap maaf,
lalu pergi
ku tatap ruang osis, ide-ide
bergelinding
bak ban memberi laju kendaraan
tuk menuju hasil sila ke-4
ku lihat ruang guru, tak ada
lukisan di meja
bersih seperti masih hangat
karena didekap sila ke-5
di lapangan; ku tatap gotong royong
mendorong tawa dari-
diri, berseri ditengah mentari yang menyorot kulit
di situlah sila ke-3 berkumpul
dalam satu tujuan;
membunuh lawan dengan sajam
di mushola sekolah, kulihat
anak-anak kelas lima sedang-
menerbangkan pesawat hajat menuju
langit
diterbangkan sila ke-1
pancasila, sebagai deret kata
pemersatu jiwa dalam pelangi
pancasila, tempat etika berwawancara
tak membahas perbedaan
akan selalu sama
di situlah tempat ku mencari
suar kata "persatuan
bangsa"
yang tergaung agung–
dan bersambung
.jpg)
josjis
ReplyDelete