PENDIDIKAN MENULIS MASA DEPAN

 


Di depan papan tulis ku tatap bulir-bulir kata; yang

merajut serat-serat nubuat

bagai memijat penat

setelah dilema berulang

 

saat istirahat aku mengecap hampa di dada

sembari menatap jendela; sorak gembira bercerai derai

dalam hati yang menelan hampa

bingung menyinggahi sanubari

kemanakah aku harus berlari?

 

di depan papan tulis ku tatap bulir-bulir kata; yang

memantik asa dalam pikiran remang; dan

menggugurkan kebimbangan yang beranak pinak

 

secangkir takdir ku hidangkan

setelah ragu-raguku dininabobokan kata-kata

 

buku bak tungku ilmu berpadu, dan

saat pertemuan pertama bertutur Pancasila

ku tangkap, ku dekap, aku mengerti

 

di depan kelas; ku bertemu, dengan

gumpalan mendung dalam kata-kata bak maut merajam

yang membuat air terjun pecah

 

"mengapa kalian menyakiti anak itu?"

mereka berdalih; tak suka dengan rasa gosong yang pahit

sila ke-2 membela, membelah hati

mereka mengalah, mengucap maaf, lalu pergi

 

ku tatap ruang osis, ide-ide bergelinding

bak ban memberi laju kendaraan

tuk menuju hasil sila ke-4

 

ku lihat ruang guru, tak ada lukisan di meja

bersih seperti masih hangat

karena didekap sila ke-5

 

di lapangan; ku tatap gotong royong mendorong tawa dari-

diri, berseri ditengah  mentari yang menyorot kulit

di situlah sila ke-3 berkumpul dalam satu tujuan;

membunuh lawan dengan sajam

 

di mushola sekolah, kulihat anak-anak kelas lima sedang-

menerbangkan pesawat hajat menuju langit

diterbangkan sila ke-1

 

pancasila, sebagai deret kata

pemersatu jiwa dalam pelangi

pancasila, tempat etika berwawancara

tak membahas perbedaan

akan selalu sama

 

di situlah tempat ku mencari

suar kata "persatuan bangsa"

yang tergaung agung–

dan bersambung


Sidoarjo, 2026


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

MEMANTIK PELITA

GELORA BELIA

AIR MEMUKUL DARATAN